Website Resmi Kantor Camat Sliyeg
Selamat Datang di Website Resmi Kecamatan Sliyeg Kabupaten Indramayu - Jawa Barat

Minggu, 25 Mei 2014

Posted by kec sliyeg in | 12.05
Liputan6.com, Indramayu: Dalam khasanah kesenian Indonesia dikenal banyak jenis wayang. Namun kini, hanya beberapa jenis yang masih diminati masyarakat luas. Antara lain, wayang golek, wayang orang (wong), dan wayang kulit. Sedangkan seni wayang lainnya telah lama ditinggalkan peminat seiring perkembangan zaman. Wayang cepak, satu di antaranya. Pertunjukan seni wayang asli Cirebon, Jawa Barat, ini sudah sangat sulit ditemukan. Padahal, pada era 1970 hingga 80-an, pemangku hajat masih berani mengandalkan wayang cepak sebagai hiburan yang bisa meramaikan suasana pesta. "Pada tahun 70 sampai 1980 bisa 125 kali dalam setahun. Tahun silam hanya sampai 25 kali," ungkap Warsad Darya, seorang dalang yang masih menekuni wayang cepak di Desa Gadingan, Sliwet, Jabar, baru-baru ini. 

Dengan Sangar Warsad-nya, lelaki ini mencoba mempertahankan seni wayang cepak. Kemahiran Warsad memainkan boneka kayu diperoleh secara otodidak. Kendati mengaku tak memiliki guru atau membaca buku cerita wayang, Warsad kini menguasai lebih dari 100 drama kisah wayang. Selama 36 tahun mendalang, Warsad lebih banyak berimprovisasi. Karir dalang Warsad dimulai saat berusia 24 tahun. Namun kini Warsad mengaku, harus melengkapi kelompok wayangnya dengan instrumen modern lain apabila ingin bertahan. Menurut Warsad, wayang cepak mulai tergeser karena banyak pengaruh. Tapi yang pasti, kata Warsad, wayang cepak tersingkir karena tersaingi oleh kesenian lain, seperti sandiwara. "Kalo golek cepak ini ceritanya kan dongeng legenda, sejarah Jawa, yang dimainkan seorang dalang. Kalo sandiwara main sendiri-sendiri. Jadi saya ketinggalan. Padahal waktu tahun 70-an paling sedikit empat desa saya tampil," Warsad mengenang kejayaannya. 

Wayang cepak atau pak-pak ini diperkirakan sudah berumur sekitar 700 tahun. Di masa Wali Songo, wayang cepak dijadikan sebagai media menyebarkan ajaran Islam. Karenanya, tokoh-tokoh seperti Sunan Gunung Jati dan Kali Jaga menjadi bagian wayang cepak. Dari sisi penceritaan, seni wayang cepak berbeda dengan wayang purwa (orang) yang hanya berbasis mitos Mahabharata. Wayang pak-pak menampilkan babak atau sejarah berbagai kerajaan di Pulau Jawa, termasuk asal muasal sejumlah tempat di Jabar. Tokoh Lamsijan adalah nama lain dari Cepot dalam wayang purwa yang menjadi perwakilan Kelompok Punakawan Amarta. 

Ketika wayang cepak terus tersingkirkan, konsep penceritaan di panggung pun tak sepenuhnya menjadi milik dalang. Sang tuan rumah pemangku hajat bebas menentukan cerita dan ki dalang harus siap menyajikannya. Seperti saat Warsad diminta pemangku hajat melakonkan babak Kerajaan Galuh di masa kebesaran kerajaan di Jawa. Namun pentas wayang cepak tak selalu mulus. Cerita babak sejarah Warsad tak mengalir lancar karena sejumlah penonton, khususnya kalangan muda meminta dilantunkan beberapa nomor lagu khas Cirebon atau Cirebonan. Akibatnya, Warsad pun terpaksa harus memenggal cerita. 

Permintaan demi permintaan terus disampaikan penonton, sehingga tokoh-tokoh wayang cepak dari Sunan Gunung Jati hingga para bupati-nya hanya terdiam di atas bantalan batang pisang. Sementara sinden memenuhi lagu permintaan para tamu, Warsad pun menjadi penonton. Pergeseran keinginan penonton ini diantisipasi kelompok wayang cepak dengan menyediakan instrumen modern, semacam drum. Alhasil, ketika sebuah lagu dinyanyikan, nuansa tradisional pun ikut terpinggirkan. "Di saat saya sedang bercerita, anak muda kirim surat minta lagu. Saya terpaksa harus melayani karena kalau tak dilayani, anak mudanya emosi. Jadi golek ini diem aja kan?," kata Warsad. 

Warsad Darya belum bisa menebak hingga kapan dia situasi itu akan berlangsung. Namun ia juga menyadari bahwa seorang seniman wayang bisa bertahan sekadarnya. Di luar Warsad, jumlah dalang di Indramayu dan Cirebon bisa dihitung dengan jari. Itu pun dengan catatan memiliki jenis kesenian lain. Bila Warsad masih bertahan dengan wayang cepak dan Lamsijannya tentu karena kecintaannya sebagai seorang seniman.(DEN/Syaiful Halim dan Satya Pandia) ;            

sumber:http://news.liputan6.com/read/54601/warsad-darya-seniman-wayang-cepak-dari-indramayu
Posted by kec sliyeg in | 11.45
Makam Buyut Tambi berada di Desa Tambi, Kecamatan Sliyeg pada jalur jalan Jatibarang-Indramayu. Keletakan makam Buyut Tambi berada pada koordinat 06º 28' 651" Lintang Selatan dan 108º 20' 233" Bujur Timur. Morfologi daerah merupakan pedataran rendah. Sekitar situs merupakan pemukiman padat. Komplek makam berpagar tembok bata setinggi sekitar 2,5 m. Di depan komplek makam merupakan tanah lapang. Gerbang untuk memasuki komplek makam berada di sisi timur terdiri dua jalan masuk. Gerbang utama berada di bagian selatan. Di bagian utara terdapat gerbang lainnya. Kedua gerbang tersebut berbentuk gapura koriagung (gapura beratap). Bagian atas terdapat hiasan kemuncak berjumlah empat. 
Kompleks makam terbagi dalam tiga halaman. Jalan yang berada pada halaman pertama dan kedua dilengkapi koridor. Di kanan dan kiri koridor terdapat bangunan terbuka untuk para peziarah. Pada halaman kedua di sisi utara terdapat mushala. Pada halaman ketiga, hampir seluruhnya berada pada bangunan terbuka. Pada bagian ini terdapat sekat-sekat untuk memisahkan para peziarah. Bagian selatan halaman ketiga merupakan bagian terbuka, terdapat lima kuburan. Makam Buyut Tambi berada di halaman ketiga, di bagian utara halaman. Makam tersebut berada pada kamar berdinding keramik. Pintu masuk berada di sisi selatan dalam keadaan terkunci yang bila dibuka harus sepengetahuan dan seijin Juru Kunci (Kuncen) karena sangat disakralkan. Pada dinding sisi selatan ini dihias dengan tempelan piring keramik. Di depan pintu cungkup terdapat berbagai kelengkapan ziarah seperti tungku pembakaran kemenyan, botol air, dan benda-benda kecil lainnya.
Latar sejarah Buyut Tambi tidak banyak diketahui. Masyarakat tidak berani menceritakan sepak terjang Buyut Tambi karena takut terkena akibat buruk bila yang diceritakannya tidak benar. Sebagian masyarakat ada yang menyebutkan bahwa Buyut Tambi adalah seorang dalang wayang kulit. Asal-muasal Buyut Tambi tidak pernah diketahui secara pasti. Dalah yang kemudian membuka lahan pemukiman yang pada saat itu masih kosong. Maka, sejak saat itu, berkembang anak-cucu Buyut Tambi di desa itu. Untuk menghormati almarhum Buyut Tambi, dinamakanlah desa itu sebagai Desa Tambi. 
Meski sebagian besar penduduk desa ini bermata pencaharian sebagai buruh tani, darah seni yang dimiliki Buyut Tambi ternyata tetap mengalir kuat. Maka, tidak heran bila di balik penampilan mereka yang sederhana, tersimpan kemahiran menari, menyanyi, memainkan berbagai alat musik, memahat, hingga mendalang. Hal yang menarik, penentuan juru kunci makam Buyut Tambi dilakukan secara lelang. Masa jabatan juru kunci 2 tahun.
Pada saat-saat tertentu masyarakat melakukan munjungan. Keunikan munjungan ini terletak pada tata ritualnya. Para peziarah makan bersama di kompleks makam sang leluhur, sambil menyaksikan pentas berbagai kesenian, macam wayang kulit, tari topeng, tarling, hingga dangdut, para pemainnya ialah para keluarga, anak cucu Buyut Tambi.
Makam Buyut Tambi sangat ramai dikunjungi para peziarah baik dari Kabupaten Indramayu tetapi juga dari daerah lainnya, dalam rangka munjungan maupun sekedar nyekar. Perbedaan antara munjungan dan nyekar adalah waktu pelaksanaannya. Jika nyekar hanya dilakukan menjelang bulan Ramadhan, maka munjungan tidak terbatas waktu. Kapan saja bisa. Namun, yang paling sering dilakukan pada bulan Jumadilakhir dalam penanggalan Jawa. Bulan Jumadilakhir adalah bulan di saat panen kedua usai setiap tahun. Sehingga kegiatan munjungan tersebut dapat berjalan lancar. Hal ini terkait juga dengan biaya yang ditanggung bersama oleh seluruh keluarga. 
Pada hari pelaksanaan munjungan, biasanya seluruh keluarga besar, baik yang berada di wilayah Indramayu sendiri, maupun yang telah tersebar di lain tempat, akan berdatangan sejak beberapa hari sebelumnya, untuk mengadakan persiapan. Yang dilakukan adalah pembagian tugas, persiapan panggung, sampai urutan acara dan siapa saja yang akan unjuk kebolehan pada hari itu. Maka pada hari yang telah ditentukan, sejak pagi para keluarga mulai datang berduyun-duyun membawa makanan khas, seperti tumpeng, ayam panggang, sampai urap (campuran beberapa macam sayuran rebus yang dibumbui cabai dan parutan kelapa).
Uniknya juga tiap makanan yang dibawa, sebelumnya dilaporkan kepada salah seorang wakil keluarga yang berada tepat di sisi makam, untuk diambil sedikit dan ditaruh di atas daun pisang dan diletakkan di dekat makam yang telah harum karena aroma kemenyan yang dibakar. Makanan itu kemudian dibawa ke depan panggung, tempat para sanak keluarga telah berkumpul dengan bawaan masing-masing. Tanpa dikomando lagi, acara demi acara berjalan dengan lancar. Semua ambil bagian untuk unjuk kebolehan sesuai urutan yang telah disepakati sebelumnya. Berbagai kesenian ditampilkan, mulai dari nyanyi, tari, lawak, wayang, dangdut, dan lain-lain.
Tepat pukul 12.00 WIB semua kegiatan dihentikan sejenak untuk memulai acara makan siang bersama. Maka berlangsunglah acara tukar-menukar lauk-pauk sembari diseling sendagurau (guyon). Usai makan siang, acara pun dilanjutkan hingga malam hari, atau bahkan keesokan harinya, bila kesenian yang ditampilkan sangat banyak. Semua orang bersuka-cita pada acara itu, tidak ada isak tangis dan air mata meski kegiatan dilakukan di komplek makam. Munjungan selain bermakna sebagai wujud terima kasih kepada almarhum leluhur, juga sekaligus menjadi ajang reuni keluarga besar yang telah tersebar di segala penjuru.
Makam Buyut Tambi selama ini lebih dikenal sebagai objek peziarahan. Adanya event munjungan ini dapat dijadikan daya tarik tersendiri kepada para peziarah agar lebih mengenal berbagai kesenian yang mungkin juga merupakan warisan Buyut Tambi. Oleh karena itu rencana diadakannya munjungan perlu disebarluaskan sebelum acara dilaksanakan, agar banyak calon wisatawan terutama domestik yang datang. 


Lokasi:  Desa Tambi, Kecamatan Sliyeg
Koordinat : 06º 28' 651" S,  108º 20' 233" E
Telepon: -
Email: -
Internet: -
Arah:  Terletak di jalur jalan antara Jatibarang dan Indramayu.
Fasilitas: -
Jam Buka: -
Tutup: -
Tiket: -  
Informasi Lebih Lanjut: - - See more at: http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=205&lang=id#sthash.BAvvDN3W.dpuf

Makam Buyut Tambi berada di Desa Tambi, Kecamatan Sliyeg pada jalur jalan Jatibarang-Indramayu. Keletakan makam Buyut Tambi berada pada koordinat 06º 28' 651" Lintang Selatan dan 108º 20' 233" Bujur Timur. Morfologi daerah merupakan pedataran rendah. Sekitar situs merupakan pemukiman padat. Komplek makam berpagar tembok bata setinggi sekitar 2,5 m. Di depan komplek makam merupakan tanah lapang. Gerbang untuk memasuki komplek makam berada di sisi timur terdiri dua jalan masuk. Gerbang utama berada di bagian selatan. Di bagian utara terdapat gerbang lainnya. Kedua gerbang tersebut berbentuk gapura koriagung (gapura beratap). Bagian atas terdapat hiasan kemuncak berjumlah empat. 
Kompleks makam terbagi dalam tiga halaman. Jalan yang berada pada halaman pertama dan kedua dilengkapi koridor. Di kanan dan kiri koridor terdapat bangunan terbuka untuk para peziarah. Pada halaman kedua di sisi utara terdapat mushala. Pada halaman ketiga, hampir seluruhnya berada pada bangunan terbuka. Pada bagian ini terdapat sekat-sekat untuk memisahkan para peziarah. Bagian selatan halaman ketiga merupakan bagian terbuka, terdapat lima kuburan. Makam Buyut Tambi berada di halaman ketiga, di bagian utara halaman. Makam tersebut berada pada kamar berdinding keramik. Pintu masuk berada di sisi selatan dalam keadaan terkunci yang bila dibuka harus sepengetahuan dan seijin Juru Kunci (Kuncen) karena sangat disakralkan. Pada dinding sisi selatan ini dihias dengan tempelan piring keramik. Di depan pintu cungkup terdapat berbagai kelengkapan ziarah seperti tungku pembakaran kemenyan, botol air, dan benda-benda kecil lainnya.
Latar sejarah Buyut Tambi tidak banyak diketahui. Masyarakat tidak berani menceritakan sepak terjang Buyut Tambi karena takut terkena akibat buruk bila yang diceritakannya tidak benar. Sebagian masyarakat ada yang menyebutkan bahwa Buyut Tambi adalah seorang dalang wayang kulit. Asal-muasal Buyut Tambi tidak pernah diketahui secara pasti. Dalah yang kemudian membuka lahan pemukiman yang pada saat itu masih kosong. Maka, sejak saat itu, berkembang anak-cucu Buyut Tambi di desa itu. Untuk menghormati almarhum Buyut Tambi, dinamakanlah desa itu sebagai Desa Tambi. 
Meski sebagian besar penduduk desa ini bermata pencaharian sebagai buruh tani, darah seni yang dimiliki Buyut Tambi ternyata tetap mengalir kuat. Maka, tidak heran bila di balik penampilan mereka yang sederhana, tersimpan kemahiran menari, menyanyi, memainkan berbagai alat musik, memahat, hingga mendalang. Hal yang menarik, penentuan juru kunci makam Buyut Tambi dilakukan secara lelang. Masa jabatan juru kunci 2 tahun.
Pada saat-saat tertentu masyarakat melakukan munjungan. Keunikan munjungan ini terletak pada tata ritualnya. Para peziarah makan bersama di kompleks makam sang leluhur, sambil menyaksikan pentas berbagai kesenian, macam wayang kulit, tari topeng, tarling, hingga dangdut, para pemainnya ialah para keluarga, anak cucu Buyut Tambi.
Makam Buyut Tambi sangat ramai dikunjungi para peziarah baik dari Kabupaten Indramayu tetapi juga dari daerah lainnya, dalam rangka munjungan maupun sekedar nyekar. Perbedaan antara munjungan dan nyekar adalah waktu pelaksanaannya. Jika nyekar hanya dilakukan menjelang bulan Ramadhan, maka munjungan tidak terbatas waktu. Kapan saja bisa. Namun, yang paling sering dilakukan pada bulan Jumadilakhir dalam penanggalan Jawa. Bulan Jumadilakhir adalah bulan di saat panen kedua usai setiap tahun. Sehingga kegiatan munjungan tersebut dapat berjalan lancar. Hal ini terkait juga dengan biaya yang ditanggung bersama oleh seluruh keluarga. 
Pada hari pelaksanaan munjungan, biasanya seluruh keluarga besar, baik yang berada di wilayah Indramayu sendiri, maupun yang telah tersebar di lain tempat, akan berdatangan sejak beberapa hari sebelumnya, untuk mengadakan persiapan. Yang dilakukan adalah pembagian tugas, persiapan panggung, sampai urutan acara dan siapa saja yang akan unjuk kebolehan pada hari itu. Maka pada hari yang telah ditentukan, sejak pagi para keluarga mulai datang berduyun-duyun membawa makanan khas, seperti tumpeng, ayam panggang, sampai urap (campuran beberapa macam sayuran rebus yang dibumbui cabai dan parutan kelapa).
Uniknya juga tiap makanan yang dibawa, sebelumnya dilaporkan kepada salah seorang wakil keluarga yang berada tepat di sisi makam, untuk diambil sedikit dan ditaruh di atas daun pisang dan diletakkan di dekat makam yang telah harum karena aroma kemenyan yang dibakar. Makanan itu kemudian dibawa ke depan panggung, tempat para sanak keluarga telah berkumpul dengan bawaan masing-masing. Tanpa dikomando lagi, acara demi acara berjalan dengan lancar. Semua ambil bagian untuk unjuk kebolehan sesuai urutan yang telah disepakati sebelumnya. Berbagai kesenian ditampilkan, mulai dari nyanyi, tari, lawak, wayang, dangdut, dan lain-lain.
Tepat pukul 12.00 WIB semua kegiatan dihentikan sejenak untuk memulai acara makan siang bersama. Maka berlangsunglah acara tukar-menukar lauk-pauk sembari diseling sendagurau (guyon). Usai makan siang, acara pun dilanjutkan hingga malam hari, atau bahkan keesokan harinya, bila kesenian yang ditampilkan sangat banyak. Semua orang bersuka-cita pada acara itu, tidak ada isak tangis dan air mata meski kegiatan dilakukan di komplek makam. Munjungan selain bermakna sebagai wujud terima kasih kepada almarhum leluhur, juga sekaligus menjadi ajang reuni keluarga besar yang telah tersebar di segala penjuru.
Makam Buyut Tambi selama ini lebih dikenal sebagai objek peziarahan. Adanya event munjungan ini dapat dijadikan daya tarik tersendiri kepada para peziarah agar lebih mengenal berbagai kesenian yang mungkin juga merupakan warisan Buyut Tambi. Oleh karena itu rencana diadakannya munjungan perlu disebarluaskan sebelum acara dilaksanakan, agar banyak calon wisatawan terutama domestik yang datang. 



Lokasi:  Desa Tambi, Kecamatan Sliyeg
Koordinat : 06º 28' 651" S,  108º 20' 233" E
Telepon: -
Email: -
Internet: -
Arah:  Terletak di jalur jalan antara Jatibarang dan Indramayu.
Fasilitas: - 
Jam Buka: -
Tutup: -
Tiket: -    
Informasi Lebih Lanjut: - - 

sumber: http://www.disparbud.jabarprov.go.id/

Makam Buyut Tambi berada di Desa Tambi, Kecamatan Sliyeg pada jalur jalan Jatibarang-Indramayu. Keletakan makam Buyut Tambi berada pada koordinat 06º 28' 651" Lintang Selatan dan 108º 20' 233" Bujur Timur. Morfologi daerah merupakan pedataran rendah. Sekitar situs merupakan pemukiman padat. Komplek makam berpagar tembok bata setinggi sekitar 2,5 m. Di depan komplek makam merupakan tanah lapang. Gerbang untuk memasuki komplek makam berada di sisi timur terdiri dua jalan masuk. Gerbang utama berada di bagian selatan. Di bagian utara terdapat gerbang lainnya. Kedua gerbang tersebut berbentuk gapura koriagung (gapura beratap). Bagian atas terdapat hiasan kemuncak berjumlah empat. 
Kompleks makam terbagi dalam tiga halaman. Jalan yang berada pada halaman pertama dan kedua dilengkapi koridor. Di kanan dan kiri koridor terdapat bangunan terbuka untuk para peziarah. Pada halaman kedua di sisi utara terdapat mushala. Pada halaman ketiga, hampir seluruhnya berada pada bangunan terbuka. Pada bagian ini terdapat sekat-sekat untuk memisahkan para peziarah. Bagian selatan halaman ketiga merupakan bagian terbuka, terdapat lima kuburan. Makam Buyut Tambi berada di halaman ketiga, di bagian utara halaman. Makam tersebut berada pada kamar berdinding keramik. Pintu masuk berada di sisi selatan dalam keadaan terkunci yang bila dibuka harus sepengetahuan dan seijin Juru Kunci (Kuncen) karena sangat disakralkan. Pada dinding sisi selatan ini dihias dengan tempelan piring keramik. Di depan pintu cungkup terdapat berbagai kelengkapan ziarah seperti tungku pembakaran kemenyan, botol air, dan benda-benda kecil lainnya.
Latar sejarah Buyut Tambi tidak banyak diketahui. Masyarakat tidak berani menceritakan sepak terjang Buyut Tambi karena takut terkena akibat buruk bila yang diceritakannya tidak benar. Sebagian masyarakat ada yang menyebutkan bahwa Buyut Tambi adalah seorang dalang wayang kulit. Asal-muasal Buyut Tambi tidak pernah diketahui secara pasti. Dalah yang kemudian membuka lahan pemukiman yang pada saat itu masih kosong. Maka, sejak saat itu, berkembang anak-cucu Buyut Tambi di desa itu. Untuk menghormati almarhum Buyut Tambi, dinamakanlah desa itu sebagai Desa Tambi. 
Meski sebagian besar penduduk desa ini bermata pencaharian sebagai buruh tani, darah seni yang dimiliki Buyut Tambi ternyata tetap mengalir kuat. Maka, tidak heran bila di balik penampilan mereka yang sederhana, tersimpan kemahiran menari, menyanyi, memainkan berbagai alat musik, memahat, hingga mendalang. Hal yang menarik, penentuan juru kunci makam Buyut Tambi dilakukan secara lelang. Masa jabatan juru kunci 2 tahun.
Pada saat-saat tertentu masyarakat melakukan munjungan. Keunikan munjungan ini terletak pada tata ritualnya. Para peziarah makan bersama di kompleks makam sang leluhur, sambil menyaksikan pentas berbagai kesenian, macam wayang kulit, tari topeng, tarling, hingga dangdut, para pemainnya ialah para keluarga, anak cucu Buyut Tambi.
Makam Buyut Tambi sangat ramai dikunjungi para peziarah baik dari Kabupaten Indramayu tetapi juga dari daerah lainnya, dalam rangka munjungan maupun sekedar nyekar. Perbedaan antara munjungan dan nyekar adalah waktu pelaksanaannya. Jika nyekar hanya dilakukan menjelang bulan Ramadhan, maka munjungan tidak terbatas waktu. Kapan saja bisa. Namun, yang paling sering dilakukan pada bulan Jumadilakhir dalam penanggalan Jawa. Bulan Jumadilakhir adalah bulan di saat panen kedua usai setiap tahun. Sehingga kegiatan munjungan tersebut dapat berjalan lancar. Hal ini terkait juga dengan biaya yang ditanggung bersama oleh seluruh keluarga. 
Pada hari pelaksanaan munjungan, biasanya seluruh keluarga besar, baik yang berada di wilayah Indramayu sendiri, maupun yang telah tersebar di lain tempat, akan berdatangan sejak beberapa hari sebelumnya, untuk mengadakan persiapan. Yang dilakukan adalah pembagian tugas, persiapan panggung, sampai urutan acara dan siapa saja yang akan unjuk kebolehan pada hari itu. Maka pada hari yang telah ditentukan, sejak pagi para keluarga mulai datang berduyun-duyun membawa makanan khas, seperti tumpeng, ayam panggang, sampai urap (campuran beberapa macam sayuran rebus yang dibumbui cabai dan parutan kelapa).
Uniknya juga tiap makanan yang dibawa, sebelumnya dilaporkan kepada salah seorang wakil keluarga yang berada tepat di sisi makam, untuk diambil sedikit dan ditaruh di atas daun pisang dan diletakkan di dekat makam yang telah harum karena aroma kemenyan yang dibakar. Makanan itu kemudian dibawa ke depan panggung, tempat para sanak keluarga telah berkumpul dengan bawaan masing-masing. Tanpa dikomando lagi, acara demi acara berjalan dengan lancar. Semua ambil bagian untuk unjuk kebolehan sesuai urutan yang telah disepakati sebelumnya. Berbagai kesenian ditampilkan, mulai dari nyanyi, tari, lawak, wayang, dangdut, dan lain-lain.
Tepat pukul 12.00 WIB semua kegiatan dihentikan sejenak untuk memulai acara makan siang bersama. Maka berlangsunglah acara tukar-menukar lauk-pauk sembari diseling sendagurau (guyon). Usai makan siang, acara pun dilanjutkan hingga malam hari, atau bahkan keesokan harinya, bila kesenian yang ditampilkan sangat banyak. Semua orang bersuka-cita pada acara itu, tidak ada isak tangis dan air mata meski kegiatan dilakukan di komplek makam. Munjungan selain bermakna sebagai wujud terima kasih kepada almarhum leluhur, juga sekaligus menjadi ajang reuni keluarga besar yang telah tersebar di segala penjuru.
Makam Buyut Tambi selama ini lebih dikenal sebagai objek peziarahan. Adanya event munjungan ini dapat dijadikan daya tarik tersendiri kepada para peziarah agar lebih mengenal berbagai kesenian yang mungkin juga merupakan warisan Buyut Tambi. Oleh karena itu rencana diadakannya munjungan perlu disebarluaskan sebelum acara dilaksanakan, agar banyak calon wisatawan terutama domestik yang datang. 

Lokasi:  Desa Tambi, Kecamatan Sliyeg
Koordinat : 06º 28' 651" S,  108º 20' 233" E
Telepon: -
Email: -
Internet: -
Arah:  Terletak di jalur jalan antara Jatibarang dan Indramayu.
Fasilitas: -
Jam Buka: -
Tutup: -
Tiket: -  
Informasi Lebih Lanjut: - - See more at: http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=205&lang=id#sthash.BAvvDN3W.dpufMakam Buyut Tambi berada di Desa Tambi, Kecamatan Sliyeg pada jalur jalan Jatibarang-Indramayu. Keletakan makam Buyut Tambi berada pada koordinat 06º 28' 651" Lintang Selatan dan 108º 20' 233" Bujur Timur. Morfologi daerah merupakan pedataran rendah. Sekitar situs merupakan pemukiman padat. Komplek makam berpagar tembok bata setinggi sekitar 2,5 m. Di depan komplek makam merupakan tanah lapang. Gerbang untuk memasuki komplek makam berada di sisi timur terdiri dua jalan masuk. Gerbang utama berada di bagian selatan. Di bagian utara terdapat gerbang lainnya. Kedua gerbang tersebut berbentuk gapura koriagung (gapura beratap). Bagian atas terdapat hiasan kemuncak berjumlah empat. 
Kompleks makam terbagi dalam tiga halaman. Jalan yang berada pada halaman pertama dan kedua dilengkapi koridor. Di kanan dan kiri koridor terdapat bangunan terbuka untuk para peziarah. Pada halaman kedua di sisi utara terdapat mushala. Pada halaman ketiga, hampir seluruhnya berada pada bangunan terbuka. Pada bagian ini terdapat sekat-sekat untuk memisahkan para peziarah. Bagian selatan halaman ketiga merupakan bagian terbuka, terdapat lima kuburan. Makam Buyut Tambi berada di halaman ketiga, di bagian utara halaman. Makam tersebut berada pada kamar berdinding keramik. Pintu masuk berada di sisi selatan dalam keadaan terkunci yang bila dibuka harus sepengetahuan dan seijin Juru Kunci (Kuncen) karena sangat disakralkan. Pada dinding sisi selatan ini dihias dengan tempelan piring keramik. Di depan pintu cungkup terdapat berbagai kelengkapan ziarah seperti tungku pembakaran kemenyan, botol air, dan benda-benda kecil lainnya.
Latar sejarah Buyut Tambi tidak banyak diketahui. Masyarakat tidak berani menceritakan sepak terjang Buyut Tambi karena takut terkena akibat buruk bila yang diceritakannya tidak benar. Sebagian masyarakat ada yang menyebutkan bahwa Buyut Tambi adalah seorang dalang wayang kulit. Asal-muasal Buyut Tambi tidak pernah diketahui secara pasti. Dalah yang kemudian membuka lahan pemukiman yang pada saat itu masih kosong. Maka, sejak saat itu, berkembang anak-cucu Buyut Tambi di desa itu. Untuk menghormati almarhum Buyut Tambi, dinamakanlah desa itu sebagai Desa Tambi. 
Meski sebagian besar penduduk desa ini bermata pencaharian sebagai buruh tani, darah seni yang dimiliki Buyut Tambi ternyata tetap mengalir kuat. Maka, tidak heran bila di balik penampilan mereka yang sederhana, tersimpan kemahiran menari, menyanyi, memainkan berbagai alat musik, memahat, hingga mendalang. Hal yang menarik, penentuan juru kunci makam Buyut Tambi dilakukan secara lelang. Masa jabatan juru kunci 2 tahun.
Pada saat-saat tertentu masyarakat melakukan munjungan. Keunikan munjungan ini terletak pada tata ritualnya. Para peziarah makan bersama di kompleks makam sang leluhur, sambil menyaksikan pentas berbagai kesenian, macam wayang kulit, tari topeng, tarling, hingga dangdut, para pemainnya ialah para keluarga, anak cucu Buyut Tambi.
Makam Buyut Tambi sangat ramai dikunjungi para peziarah baik dari Kabupaten Indramayu tetapi juga dari daerah lainnya, dalam rangka munjungan maupun sekedar nyekar. Perbedaan antara munjungan dan nyekar adalah waktu pelaksanaannya. Jika nyekar hanya dilakukan menjelang bulan Ramadhan, maka munjungan tidak terbatas waktu. Kapan saja bisa. Namun, yang paling sering dilakukan pada bulan Jumadilakhir dalam penanggalan Jawa. Bulan Jumadilakhir adalah bulan di saat panen kedua usai setiap tahun. Sehingga kegiatan munjungan tersebut dapat berjalan lancar. Hal ini terkait juga dengan biaya yang ditanggung bersama oleh seluruh keluarga. 
Pada hari pelaksanaan munjungan, biasanya seluruh keluarga besar, baik yang berada di wilayah Indramayu sendiri, maupun yang telah tersebar di lain tempat, akan berdatangan sejak beberapa hari sebelumnya, untuk mengadakan persiapan. Yang dilakukan adalah pembagian tugas, persiapan panggung, sampai urutan acara dan siapa saja yang akan unjuk kebolehan pada hari itu. Maka pada hari yang telah ditentukan, sejak pagi para keluarga mulai datang berduyun-duyun membawa makanan khas, seperti tumpeng, ayam panggang, sampai urap (campuran beberapa macam sayuran rebus yang dibumbui cabai dan parutan kelapa).
Uniknya juga tiap makanan yang dibawa, sebelumnya dilaporkan kepada salah seorang wakil keluarga yang berada tepat di sisi makam, untuk diambil sedikit dan ditaruh di atas daun pisang dan diletakkan di dekat makam yang telah harum karena aroma kemenyan yang dibakar. Makanan itu kemudian dibawa ke depan panggung, tempat para sanak keluarga telah berkumpul dengan bawaan masing-masing. Tanpa dikomando lagi, acara demi acara berjalan dengan lancar. Semua ambil bagian untuk unjuk kebolehan sesuai urutan yang telah disepakati sebelumnya. Berbagai kesenian ditampilkan, mulai dari nyanyi, tari, lawak, wayang, dangdut, dan lain-lain.
Tepat pukul 12.00 WIB semua kegiatan dihentikan sejenak untuk memulai acara makan siang bersama. Maka berlangsunglah acara tukar-menukar lauk-pauk sembari diseling sendagurau (guyon). Usai makan siang, acara pun dilanjutkan hingga malam hari, atau bahkan keesokan harinya, bila kesenian yang ditampilkan sangat banyak. Semua orang bersuka-cita pada acara itu, tidak ada isak tangis dan air mata meski kegiatan dilakukan di komplek makam. Munjungan selain bermakna sebagai wujud terima kasih kepada almarhum leluhur, juga sekaligus menjadi ajang reuni keluarga besar yang telah tersebar di segala penjuru.
Makam Buyut Tambi selama ini lebih dikenal sebagai objek peziarahan. Adanya event munjungan ini dapat dijadikan daya tarik tersendiri kepada para peziarah agar lebih mengenal berbagai kesenian yang mungkin juga merupakan warisan Buyut Tambi. Oleh karena itu rencana diadakannya munjungan perlu disebarluaskan sebelum acara dilaksanakan, agar banyak calon wisatawan terutama domestik yang datang. 

Lokasi:  Desa Tambi, Kecamatan Sliyeg
Koordinat : 06º 28' 651" S,  108º 20' 233" E
Telepon: -
Email: -
Internet: -
Arah:  Terletak di jalur jalan antara Jatibarang dan Indramayu.
Fasilitas: -
Jam Buka: -
Tutup: -
Tiket: -  
Informasi Lebih Lanjut: - - See more at: http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=205&lang=id#sthash.BAvvDN3W.dpuf
Posted by kec sliyeg in | 11.41
BERITA INDRAMAYU - SLIYEG - tropong.com Pernahkah anda mendengar "PASAR SETAN" ?, Rasanya mendengar namanya memang sedikit aneh, atau bahkan terasa serem. Pasar tradisonal yang keberadaannya sejak dulu dan kini masih bisa kita lihat jika dini hari saja disepanjang jalan raya antara perbatasan Desa Tugu dan Tugu Kidul Kecamatan Sliyeg Kabupaten Indramayu. “Ada-ada saja”, mungkin itu yang ada dibenak kita, kok bisa dinamakan pasar setan, apakah tidak ada nama lain yang lebih pas? Cerita sesepuh Desa Tugu Kidul, H. Mawar, konon sejak Ia kecil pasar setan sudah ada, menurut cerita orang tuanya, bisa dinamakan pasar setan karena adanya aktifitas pasar pada malam hari. ”Para pedagang mulai mengisi lapaknya dan para pembeli berdatangan kira-kira jam dua malam, terus tong-tong subuh sudah pada bubar. Karena seharusnya malam itu waktunya buat tidur tetapi mereka berdagang sedangkan yang namanya setankan adanya malam hari, makannya dinamakan pasar setan,” katanya. Pasar setan yang hanya menjajakan beraneka ragam sayur-mayur, buah-buahan, dan berbagai bahan pokok ini digelar di tepi jalan, seperti pasar tumpah pada umumnya. Dulu penjual dan pembeli bukan hanya dari Desa Tugu saja, melainkan dari desa sekitar. “Waktu itu mereka datang dengan berjalan kaki, dan barang bawaannya dipikul, bahkan tak jarang dari mereka yang dirampok, maklum waktu itu masih rawan dan banyak toang,” ceritanya. Sambil mengingat memorinya lagi, para pedagang kemudian saling berebut tempat dan tentunya memilih yang strategis. “Siapa yang datang lebih awal maka akan leluasa memilih tempat untuk menggelar barang daganganya, karena tidak ada lapak yang disewakan apalagi kios waktu itu,” cerita mantan kuwu pertama Tugu Kidul ini. Dari awal berebut lapak tadi, akibatnya posisi semula pasar di Desa Tugu Kidul Blok Kiradenan kini bergeser ke Desa Tugu Blok Ketok. Karena tiap harinya para pedagang saling berpindah posisi untuk memilih tempat yang enak dan ramai, ketika kemarin dirasa sepi maka besoknya pedagang pindah tempat. Kini nama pasar setan lebih dikenal sebagai nama salah satu blok di desa Tugu. Pasar setan dulu dengan sekarang kalau dilihat dari waktu dan barang yang dijual tidak ada perbedaan, pasar yang dulu menjadikan Desa Tugu bukan desa mati ketika malam hari kini semakin sepi saja, dan pembeli dari luar desa pun sudah tidak lagi ada. Pasar setan yang bisa menggeliatkan perekonomian dan aktifitas malam hari sudah mulai ditinggalkan, terkikis keberadaanya seiring berdirinya dua buah minimarket dan banyaknya warung, toko kelontong di desa itu. Tapi, masih ada pasar yang masih banyak dikunjungi warga Tugu, ialah Jumaan atau pasar yang adanya setiap malam Jum'at yang digelar dihalaman balai desa hingga ke bibir jalan raya. Pasar ini banyak dijadikan tempat kumpul muda-mudi untuk sekedar cuci mata selain membeli, atau ibu-ibu yang berbelanja keperluan dapur. Jumaan mulai ramai dikunjungi saat sore, dan penjual menyudahinya sekitar pukul 21.00 WIB. (noors-humas-imy)

sumber: http://www.teropong-news.com/2011/05/berita-indramayu-sliyeg-pasar-setan.html
Posted by kec sliyeg in | 11.16


INDRAMAYU – K2 FM – Rabu,21/5-2014, 13:44 WIB

                        Kuwu Desa Majasari Kecamatan Sliyeg Wartono S.Pd, M.Si menerima penghargaan dari Dinas Komunikasi dan Informatika Propinsi Jawa Barat sebagai pembina komunitas TIK Terbaik Tingkat Jawa Barat.  Penghargaan diberikan oleh Wakil Bupati Indramayu Drs. H. Supendi, M.Si kepada Wartono, pada Peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-106 Tingkat Kabupaten Indramayu, Selasa (20/5).

                        Desa Majasari dinilai telah berhasil membina komunitas Teknologi dan Informasi (TIK) yang berada di bawah naungan organisasi berbasis masyarakat atau CBO Zulfikar.  Komunitas TIK Majasari, berhasil mengelola website desa sehingga dapat dimanfaatkan sebagai media untuk penyampaian berbagai informasi dan mempublikasikan potensi serta berbagai perkembangan pembangunan di desa.
 
                      “Sebetulnya di desa kami banyak sekali pengguna internet, namun hanya sebatas untuk entertain atau hiburan saja.  Padahal, banyak potensi-potensi desa perlu dikenalkan kepada dunia luar.  Dengan adanya website www.majasari.desa.id, maka Desa Majasari dikenal masyarakat dunia termasuk sebagai sarana membina komunikasi dengan warga desa Majasari yang menetap di luar negeri,” kata Kuwu Wartono di studio K2 FM.

                        Awalnya, Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kabupaten Indramayu mempercayakan kepada komunitas TIK Desa Majasari CBO Zulfikar untuk mewakili Indramayu dalam seleksi Anugerah IT Jawa Barat 2014.  Dewan juri akhirnya menetapkannya sebagai pemenang dengan pertimbangan bahwa TIK Desa Majasari ini sangat aktif melakukan perubahan di bidang sosial kemasyarakatan melalui media teknologi indormasi desa.

                        TIK Desa Majasari CBO Zulfikar semula digagas oleh pemuda desa setempat, Aas Adiwijaya.  Kepedulian Aas untuk kemajuan desa diwujudkan dengan inisiatif membuat website yang merangkul kalangan anak muda Desa Majasari.  Gayungpun bersambut setelah didukung Kuwu Desa Majasari, Wartono.  Dalam perkembangannya, media tersebut sangat berperan dalam mewujudkan desa yang membangun. Masyaratpun kini telah melek internet dan sudah memahami manfaat TIK.

                           Sementara itu, Kabid Kominfo pada Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Indramayu Dra. Laela Hosilawati, M.Si melalui seorang staf Indra Heryadi mengatakan, bahwa pihaknya mengutus dua komunitas TIK mewakili Indramayu ke tingkat Jawa Barat.  "CBO Zulfikar Indramayu menjadi terbaik di antara 5 pemenang kabupaten/kota se-Jabar. Penyerahan penghargaan di tingkat propinsi, dilaksanakan di Bandung oleh Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar dua pekan lalu," ujar pria berkaca mata ini.   
  
                        Wartono merupakan salah seorang penerima penghargaan pada saat upacara Peringatan Harkitnas di alun-alun Indramayu.  Ia menerima piala, piagam dan hadiah seperangkat sarana penunjang Teleconfrence yang diserahkan Wabup Supendi didampingi Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kabupaten Indramayu Drs. H. Zakaria Joko Hartawan, M.Si. (Jeffry) 

sumber: http://www.k2911fm.com/2014/05/desa-majasari-terima-penghargaan.html
Posted by kec sliyeg in | 11.13
Pemerintah Desa Majasari tengah menggiatkan penghijauan lingkungan desa. Hal itu sebagai salah satu upaya menyukseskan program penanaman sejuta pohon, dan melestarakin budaya lokal serta menghijaukan lingkungan.

Dok.Pemdes
Pemerintah Desa bersama unsur muspika Sliyeg beserta masyarakat desa Majasari dan Mahasiswa IAIN Syekh Nurjati Cirebon yang sedang melaksanakan KKN, bergotong royong menanam pohon Maja ditepi sungai yang melintasi desa Majasari, Jumat (21/6).
Diungkapkan Kuwu Majasari, Wartono, S.Pd., M.Si, Pohon Maja dipilih selain mempunyai nilai historis yang melekat pada nama desa, juga memiliki manfaat yang istimewa. Satu sisi memiliki nilai keindahan, sedang disisi lain pohon Maja juga dapat dimanfaatkan sebagai Insektisida organik setelah didiproses dengan mencampurkan limbah kandang.
"Yang kami lakukan hari ini yaitu mengadakan kegiatan bersih-bersih desa, sekaligus penanaman pohon maja untuk penghijauan, menjaga erosi tanah, juga sebagai serapan air. nantinya pohon-pohon Maja yang telah kita tanam pada hari ini, akan dilegalkan melalui peraturan desa" terang Wartono.
Hadir dalam penanaman pohon maja pelaksana tugas Camat Sliyeg Budi Setiawan, S.Sos, M.Si yang di dampingi Kapolsek Sliyeg  dan perwakilan Danramil Sliyeg. Budi Setiawan mengatakan, pihaknya menyambut baik gagasan pemerintah desa yang menggelar kegiatan positif tersebut. " Upaya ini patut kita dukung, sehingga nantinya akan tercipta lingkungan yang hijau dan bersih. Selain melakukan penanaman pohon hari ini, juga perlu dilakukan pemeliharaan dihari-hari berikutnya. Sehingga apa yang menjadi tujuan program ini akan dapat tercapai," tutur Plt. Camat Sliyeg.
Masyarakat tampak aktif mengikuti kegiatan penanaman pohon yang digagas pemerintah desa Majasari. Dengan penuh kesadaran, mereka mengawal program tersebut dan berkomitmen untuk menjaga tanaman yang telah ditanam bersama (cip).




Sumber : Harian Radar Indramayu Edisi Sabtu 22 Juni 2013
Isi situs bersifat informatif bukan merupakan legal opinion dari Kecamatan Sliyeg.
Apabila terdapat data elektronik based yang berbeda dengan data resmi paper, maka yang menjadi acuan adalah data resmi paper based.

CARI

BUPATI INDRAMAYU